Kamis, 28 November 2019


JELAJAH CURUG CINDE

            Jam didinding menunjukkan pukul 04.30 wib, sepagi ini tika sudah menggedor gedor pintu kamarku. “woy .. putri solooo, ini tika, cepat bangun, buka pintu nya, katanya mau ikut,” teriak tika. “ha apa? jam berapa ini tik, masih pagi juga, ya ya sebentar” sahut ku sambil membereskan selimut.
            Perkenalkan namaku putri, aku mahasiswa keperawatan tingkat akhir yang sebentar lagi sidang skripsi, stress berat menjalani penelitian, bolak balik rumah sakit, kampus, rumah, begitulah keseharianku, intinya saat ini sedang merasakan bosan dengan rutinitas itu, bagi yang sudah merasakan pasti pernah ada di titik ini, revisi revisi dan revisi lagi, namanya juga tugas akhir.
            Alih alih mengurangi rasa bosan, rasanya ingin sejenak melepas penatku ini. Aku kepo dengan teman kecilku dulu mirza namanya, dia tinggal di desa sebelah, dia aktif disosial media, member instapekalongan, awalnya aku basa basi ingin ikutan jalan jalan, ternyata di dalam komunitas itu tidak melulu soal  jalan jalan jelajah pekalongan, tapi banyak sekali program didalamnya. Insta pekalongan adalah Suatu komunitas yang dibangun oleh pemuda pekalongan guna mempromosikan kota pekalongan,
Iseng aja kebetulan ada event jalan jalan Trip Curug Cinde di instapekalongan, dan harinya pas aku libur penelitian, aku ikut mirza, rame sekali anggota instapekalongan ternyata banyak juga yang gabung, dan aku dikenalkan sama teman temannya mirza, terutama yang cewe, ada tika, mitha dan icha. Acara trip curug cinde diadakan hari minggu jam 6 pagi kumpul di alun alun kajen pekalongan.
            “Tik, ini belum ada jam 5 loh, kamu udah siap aja, aku masih ngantuk” ucapku. “kamu tuh, disuruh ontime juga, kita itu harus jadi contoh buat yang lain, biar ngaret itu tidak jadi kebiasaan . betul ?” kata tika. “ sipp aku suka nih. Kamu tumben bener” kataku. Aku dan tika pergi berkumpul di Tugu Durian kecamatan karanganyar.
            Perjalanan kita dimulai, kita hanya 10 orang anggota instapekalongan yang ikut, dan 5 orang lainnya non anggota, karena banyak yang berhalangan jadi sedikit yang ikutan. Aku , tika, mitha, icha, mirza, wildan, anto, rian, arief, izur  dan 5 orang yang lain berdoa terlebih dahulu sebelum berangkat menuju Curug Cinde.
            Curug Cinde merupakan salah satu objek wisata alam pekalongan yang terdapat di Kecamatan Lebakbarang tepatnya di Desa Depok. Jarak Desa Depok sendiri kira – kira 24km dari Tugu Durian Kecamatan Karanganyar. 1,5 jam perjalanan menuju desa depok dengan mengendarai sepeda motor, Selama perjalanan menuju objek wisata ini kita disuguhi pemandangan alam yang masih asri, melewati tengah hutan, jalan pegunungan yang berkelok – kelok dengan tanjakan serta turunan dan gemericik suara air sungai dan hewan hewan di hutan. Suasana alam pedesaan khas daerah pegunungan akan nampak dari deretan perkampungan yang dilalui.
            Kita parkir motor dirumah warga, curug cinde ini belum terekspose media, belum terjamah oleh orang luar, kita akan berjalan kaki menuju curug nya pun didampingi pemuda penduduk asli sana. Inilah yang menjadi tantangan, aku sebelumnya belum pernah pergi ke curug yang katanya kita harus berjalan selama  kurang lebih 2 jam, kemudian melewati lembah, naik turun lewati sungai kecil, menebas ranting ranting yang menghalangi jalan, dan membuat jalan agar nantinya mudah untuk dilalui. Selalu waspada dengan lingkungan sekitar, bisa jadi ada serangga. Mata kita juga  harus awas dengan jalanan yang licin, berlumpur, dan ada juga yang berbatu. Dan benar adanya yang diceritakan mirza, apa yang ada difikiran ku ketika diceritakan mirza sama dengan apa yang kulalui sekarang.
            “Kamu kuat kan put?” tanya mirza. “kuat lah, baru setengah jam, tapi tidak tahu nanti” jawabku. Tiba tiba ada suara dari belakang, Brughhhhh..... “aduw Kak, kak tolong tika pingsan nih” teriak icha. Tika dan icha ada dibelakangku, kita semua langsung lari menghampiri icha. “kok bisa sih tika pingsan? tika tuh kalau capek ngomong dong” kataku sambil aku melonggarkan baju tika dan memberikan aroma minyak kayu putih didekat hidungnya. Teman teman sempat panik, tak lama kemudian “udah bngun nih, kasih teh hangat gih” kata wildan, icha pun membuatkan tika teh hangat.
            Kami terhenti sampai tika siuman dan mampu berjalan kembali melanjutkan perjalanan. perjalanan yang harusnya dihabiskan 2 jam mungkin bisa jadi lebih, dan ada ada saja lagi, sendal yang aku pakai putus , “mampus deh, masa aku nyeker” dalam hatiku. Untungnya mirza bawa sendal jepit, dikasih lah ke aku. Selama perjalanan ada satu tempat disitu ada sungai airnya sangat deras, juga bebatuan yang tajam dan kita harus menyebrangi sungai tersebut kemudian naik keatas batu besar. Disitu aku hampir nyerah dan bertanya dalam hati apa aku bisa melewati sungai itu, rasanya sulit, namun dengan dukungan dan uluran tangan teman teman semua, kita semua akhirnya bisa melewatinya.
            Gemericik air terjun terdengar jelas, harus hati hati, kita menuju turunan jalan yang licin dan berlumpur, akhirnya keindahan alam pekalongan benar benar nyata, alhamdulillah kita telah sampai setelah lamanya perjalanan kaki selama 3 jam terbayar sudah. Air terjun disini sangat tinggi dan jernih, menyegarkan, benar benar masih asri belum terjamah oleh masyarakat luar. Seketika aku membasuh wajahku dengan air yang jernih itu. Sejuk nan begitu indah ciptaanMu ini ya Tuhan.
            Aku tersenyum pada mirza dan berkata “jadi seperti ini za, enak juga ya kalau jadi member instapekalongan, banyak teman, tambah cinta sama lingkungan, saling membantu, saling toleransi, the best lah ini komunitas” ucapku. “join aja put, ikut mengembangkan dan mempromosikan wisata yang ada dipekalongan, asik kan?”  kata mirza. “Iya nanti gampang lahza, kalau mau join tinggal bilang ke kamu aja, hehe” kataku. “iya siap, eh sini aku fotoin kamu, rugi sampai sini gak foto foto” kata mirza. “Oke oke aku berdiri disini ya” kataku
            Setelah berfoto, mendokumentasikan perjalanan ini, bercengkrama sampai Termenung dipinggiran air terjun, lalu memandangi langit biru dan merasakan kesegaran pepohonan hijau disekelilingnya, kita sangat mengangumi ciptaan tuhan.  Terakhir kita juga harus memungut sampah kita dan dimasukkan kedalam kantong untuk dibuang nanti. Setelah semua selesai, kita berdoa lagi supaya perjalanan pulang kita aman dan selamat.  Langit mendung, dan sudah menunjukkan pukul 15.00 wib kita harus segera pulang, selama perjalanan pulang rasanya belum mau meninggalkan tempat ini. Kami bersyukur dapat menikmati ciptaanMu yang luar biasa ini.

Selesai.