JELAJAH CURUG
CINDE
Jam didinding menunjukkan pukul
04.30 wib, sepagi ini tika sudah menggedor gedor pintu kamarku. “woy .. putri
solooo, ini tika, cepat bangun, buka pintu nya, katanya mau ikut,” teriak tika.
“ha apa? jam berapa ini tik, masih pagi juga, ya ya sebentar” sahut ku sambil
membereskan selimut.
Perkenalkan namaku putri, aku mahasiswa
keperawatan tingkat akhir yang sebentar lagi sidang skripsi, stress berat
menjalani penelitian, bolak balik rumah sakit, kampus, rumah, begitulah keseharianku,
intinya saat ini sedang merasakan bosan dengan rutinitas itu, bagi yang sudah
merasakan pasti pernah ada di titik ini, revisi revisi dan revisi lagi, namanya
juga tugas akhir.
Alih alih mengurangi rasa bosan, rasanya
ingin sejenak melepas penatku ini. Aku kepo dengan teman kecilku dulu mirza
namanya, dia tinggal di desa sebelah, dia aktif disosial media, member
instapekalongan, awalnya aku basa basi ingin ikutan jalan jalan, ternyata di dalam
komunitas itu tidak melulu soal jalan
jalan jelajah pekalongan, tapi banyak sekali program didalamnya. Insta
pekalongan adalah Suatu komunitas yang dibangun oleh pemuda pekalongan guna
mempromosikan kota pekalongan,
Iseng
aja kebetulan ada event jalan jalan Trip
Curug Cinde di instapekalongan, dan harinya pas aku libur penelitian, aku
ikut mirza, rame sekali anggota instapekalongan ternyata banyak juga yang
gabung, dan aku dikenalkan sama teman temannya mirza, terutama yang cewe, ada
tika, mitha dan icha. Acara trip curug cinde diadakan hari minggu jam 6 pagi
kumpul di alun alun kajen pekalongan.
“Tik, ini belum ada jam 5 loh, kamu
udah siap aja, aku masih ngantuk” ucapku. “kamu tuh, disuruh ontime juga, kita
itu harus jadi contoh buat yang lain, biar ngaret itu tidak jadi kebiasaan .
betul ?” kata tika. “ sipp aku suka nih. Kamu tumben bener” kataku. Aku dan
tika pergi berkumpul di Tugu Durian kecamatan karanganyar.
Perjalanan kita dimulai, kita hanya
10 orang anggota instapekalongan yang ikut, dan 5 orang lainnya non anggota,
karena banyak yang berhalangan jadi sedikit yang ikutan. Aku , tika, mitha, icha,
mirza, wildan, anto, rian, arief, izur dan 5 orang yang lain berdoa terlebih dahulu
sebelum berangkat menuju Curug Cinde.
Curug Cinde merupakan salah satu
objek wisata alam pekalongan yang terdapat di Kecamatan Lebakbarang tepatnya di
Desa Depok. Jarak Desa Depok sendiri kira – kira 24km dari Tugu Durian
Kecamatan Karanganyar. 1,5 jam perjalanan menuju desa depok dengan mengendarai
sepeda motor, Selama perjalanan menuju objek wisata ini kita disuguhi
pemandangan alam yang masih asri, melewati tengah hutan, jalan pegunungan yang
berkelok – kelok dengan tanjakan serta turunan dan gemericik suara air sungai
dan hewan hewan di hutan. Suasana alam pedesaan khas daerah pegunungan akan
nampak dari deretan perkampungan yang dilalui.
Kita parkir motor dirumah warga,
curug cinde ini belum terekspose media, belum terjamah oleh orang luar, kita
akan berjalan kaki menuju curug nya pun didampingi pemuda penduduk asli sana. Inilah
yang menjadi tantangan, aku sebelumnya belum pernah pergi ke curug yang katanya
kita harus berjalan selama kurang lebih
2 jam, kemudian melewati lembah, naik turun lewati sungai kecil, menebas
ranting ranting yang menghalangi jalan, dan membuat jalan agar nantinya mudah
untuk dilalui. Selalu waspada dengan lingkungan sekitar, bisa jadi ada
serangga. Mata kita juga harus awas
dengan jalanan yang licin, berlumpur, dan ada juga yang berbatu. Dan benar
adanya yang diceritakan mirza, apa yang ada difikiran ku ketika diceritakan
mirza sama dengan apa yang kulalui sekarang.
“Kamu kuat kan put?” tanya mirza.
“kuat lah, baru setengah jam, tapi tidak tahu nanti” jawabku. Tiba tiba ada
suara dari belakang, Brughhhhh..... “aduw Kak, kak tolong tika pingsan nih” teriak
icha. Tika dan icha ada dibelakangku, kita semua langsung lari menghampiri
icha. “kok bisa sih tika pingsan? tika tuh kalau capek ngomong dong” kataku
sambil aku melonggarkan baju tika dan memberikan aroma minyak kayu putih
didekat hidungnya. Teman teman sempat panik, tak lama kemudian “udah bngun nih,
kasih teh hangat gih” kata wildan, icha pun membuatkan tika teh hangat.
Kami terhenti sampai tika siuman dan
mampu berjalan kembali melanjutkan perjalanan. perjalanan yang harusnya
dihabiskan 2 jam mungkin bisa jadi lebih, dan ada ada saja lagi, sendal yang
aku pakai putus , “mampus deh, masa aku nyeker” dalam hatiku. Untungnya mirza
bawa sendal jepit, dikasih lah ke aku. Selama perjalanan ada satu tempat disitu
ada sungai airnya sangat deras, juga bebatuan yang tajam dan kita harus
menyebrangi sungai tersebut kemudian naik keatas batu besar. Disitu aku hampir
nyerah dan bertanya dalam hati apa aku bisa melewati sungai itu, rasanya sulit,
namun dengan dukungan dan uluran tangan teman teman semua, kita semua akhirnya
bisa melewatinya.
Gemericik air terjun terdengar jelas,
harus hati hati, kita menuju turunan jalan yang licin dan berlumpur, akhirnya
keindahan alam pekalongan benar benar nyata, alhamdulillah kita telah sampai
setelah lamanya perjalanan kaki selama 3 jam terbayar sudah. Air terjun disini
sangat tinggi dan jernih, menyegarkan, benar benar masih asri belum terjamah
oleh masyarakat luar. Seketika aku membasuh wajahku dengan air yang jernih itu.
Sejuk nan begitu indah ciptaanMu ini ya Tuhan.
Aku tersenyum pada mirza dan berkata
“jadi seperti ini za, enak juga ya kalau jadi member instapekalongan, banyak
teman, tambah cinta sama lingkungan, saling membantu, saling toleransi, the
best lah ini komunitas” ucapku. “join aja put, ikut mengembangkan dan
mempromosikan wisata yang ada dipekalongan, asik kan?” kata mirza. “Iya nanti gampang lahza, kalau
mau join tinggal bilang ke kamu aja, hehe” kataku. “iya siap, eh sini aku
fotoin kamu, rugi sampai sini gak foto foto” kata mirza. “Oke oke aku berdiri disini
ya” kataku
Setelah berfoto, mendokumentasikan
perjalanan ini, bercengkrama sampai Termenung dipinggiran air terjun, lalu
memandangi langit biru dan merasakan kesegaran pepohonan hijau disekelilingnya,
kita sangat mengangumi ciptaan tuhan. Terakhir kita juga harus memungut sampah kita
dan dimasukkan kedalam kantong untuk dibuang nanti. Setelah semua selesai, kita
berdoa lagi supaya perjalanan pulang kita aman dan selamat. Langit mendung, dan sudah menunjukkan pukul
15.00 wib kita harus segera pulang, selama perjalanan pulang rasanya belum mau
meninggalkan tempat ini. Kami bersyukur dapat menikmati ciptaanMu yang luar
biasa ini.
Selesai.